Senin, 05 September 2016

Senjaku Senjamu



Sejak saat itu aku mulai menyukai lagi senja.. waktu dimana surya menepi pada teduh yang tentram saat sinarnya meredup untuk berserah pada malam..

meski sebelumnya aku sangat sekali membenci senja.. aku tak suka pada hilangnya seolah menutup harapan untuk memberikku terang akan hidup. semua ditenggelamkan begitu saja menjadi gelap

sekarang aku menikmati semuanya dalam senja.. ada warnanya.. ada teduhnya.. ada indahnya.. bahkan ada kenangan baru yang kusimpan pada senja.. padahal sebelumnya ada kisah yang tak pernah bisa kuhapus dalam ingatan

tetapi aku tidak lagi mau tenggelam dalam cerita lama.. aku ingin senja yang baru dan bukan lagi senja yang menyudahi mimpiku.. akan aku buat lupa senja masa lalu.. bagiku itu hanyalah lembayung dalam drama.

senja baru membuat aku sadar bahwa matahari yang hilang itu tidak ada.. matahari hanya sedang memberikan hangatnya pada bagian bumi lain.. sedangkan aku harus rela bahwa dia akan datang lagi esok hari dengan hangat yang sama dan sinar yang tak pernah berubah

kali ini yang membuat aku semakin percaya bahwa senja itu indah dibuktikan dengan hadirnya kamu sebagai gadis yang mampu menjadikan cerita baru untuk senja

kamu mampu membuat aku tersenyum untuk pertama kalinya sejak 395 hari yang lalu.. selama itu aku lebih banyak diam bahkan kali ini kamu bisa membuat urat syaraf dibibirku bekerja dengan baik lagi..

memang pertemuan denganmu saat itu tidaklah spesial.. hanya pantai kuta dengan pasirnya.. lalu meja dengan dua gelas minuman dingin untuk kita.. bahkan tak ada setangkai bunga atau lilin yang biasa diletakan agar menambah suasana romantis..

kita berbicara perihal cinta.. atau sesekali mengeluh tentang pekerjaan.. semuanya tetap dalam senja.. namun yang membuat aku kembali tersenyum adalah caramu memperlakukan ceritaku dengan sungguh.. seolah kamu memang pendengar yang baik..

tidak menarik memang.. hanya cerita biasa yang pasti orang biasapun mengalami.. tentang persoalan hidup yang tak akan kunjung usai.. tetapi kamu memang sungguh berbeda

aku merasa dihargai.. aku didengarkan lalu sedikit tingkah konyol untuk membuang rasa bosan dengan semua ceritaku... hingga senja itu mengilang dan kita tetap bercerita hingga malam

Minggu, 04 September 2016

Purnama Darimu

ketika satu purnama aku kehilangan kesadaran.. semuanya dimulai saat senja itu membanting hatiku dengan seribu tanya.. entah apa maksud dari sebuah catatan pada kertas putih didalam dompetmu..

aku tak berpikir bahwa kamu akan menjadi penipu ulung.. tetapi seketika itu pula otak didalam kepalaku rasanya berdenyut dan ingin keluar dari cangkangnya..

tidak aku tunggu lama saat itu.. tepat sinar purnama berada diatas kepalaku dan aku mencoba memutar ulang ingatan saat dimana aku temukan secarik kertas berisi catatan nomer handphone dan beberapa email yang membuat aku rasanya ingin muntah..

bukan.. bukan karena aku membaca tulisan tentang hal yang jorok tetapi semua catatan itu membuat kepalaku dilanda pusing.. sebab yang aku temukan adalah perihal ganjil yang tak biasanya kutemukan darimu..

benar saja.. purnama tertutup kelabu awan yang mulai mendung dan petir datang saling bersahutan.. seakan memang menjadi latar untuk semua keadaan yang ada pada tanya besar pikiranku..

aku tak pernah menyangka catatan sakti yang aku temukan pada tempat uangmu yang baru adalah balapetaka hubungan kita.. semuanya berubah menjadi gambaran nyata tentang kamu..

rasa mual itu hilang.. tetapi mataku buta.. hidungku tak lagi dapat merasakan bau.. telinga mendadak sunyi dan urat pada saraf di tubuh ini melemas lalu kulitku tak lagi bisa merasakan hembusan angin yang seharusnya dingin. lidah menjadi kelu membisu..

lengkap sudah cerita satu purnama tentangmu.. entah bagaimana lagi aku harus melanjutkan cerita lain yang padahal isi pena dan sisa-sisa kertas masih banyak untuk membuat beberapa bagian kisah menarik selain tentangmu saja..

dari semogaku yang tak pernah berhenti aku harapkan dan purnama yang menjadikannya teman bait dari sastra yang hilang lalu teruntuk kanvas yang kosong bahkan belum aku sempat lukis wajah dan namamu disana.. aku berhenti pada kalimat yang menjadikannya bisu abadi